Sekilas, ADHD tipe inattentive, hyperactive, dan combined memang berada dalam satu kondisi yang sama. Hanya saja, yang perlu diingat, setiap tipe ADHD memiliki ciri yang berbeda. Ada anak yang lebih sering melamun, ada yang sulit diam, dan ada pula yang menunjukkan gabungan dari keduanya.
Memahami perbedaan ini membantu orang tua maupun guru memberikan pendekatan yang lebih sesuai. Sebab, anak yang tampak pendiam dan anak yang tampak tidak bisa berhenti bergerak bisa saja sedang menghadapi tantangan yang berakar pada kondisi yang sama.
ADHD Tipe Inattentive
Pada tipe ADHD inattentive, tantangan utamanya terletak pada perhatian. Anak tampak mudah kehilangan fokus ketika mulai mengerjakan tugas, sering lupa meletakkan barang, atau terlihat seperti tidak mendengarkan ketika diajak berbicara.
Ketika berada di kelas, mereka biasanya tidak mengganggu teman, tetapi hasil belajarnya bisa menurun karena banyak instruksi yang terlewat. Kondisi ini sering kali tidak langsung dikenali karena perilakunya tidak terlalu mencolok. Anak dengan tipe ini kerap dianggap sekadar pelamun atau kurang berusaha, padahal ia sedang kesulitan mempertahankan perhatian.
ADHD Tipe Hyperactive-Impulsive
Berbeda dengan tipe sebelumnya, tipe hyperactive lebih mudah terlihat. Anak cenderung terus bergerak, sulit duduk tenang, sering memotong pembicaraan, atau bertindak tanpa berpikir panjang. Energinya seolah tidak ada habisnya.
Dalam aktivitas sehari-hari, mereka sering berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain sebelum menyelesaikan yang pertama. Meski demikian, perilaku tersebut bukan berarti anak sengaja tidak patuh. Mereka memang mengalami kesulitan mengendalikan dorongan untuk bergerak atau bereaksi. Inilah alasan mengapa pendekatan berupa hukuman jarang berhasil, karena akar masalahnya bukan pada kemauan anak.
ADHD Tipe Combined
Lalu, bagaimana dengan tipe combined? Tipe ini merupakan gabungan dari gejala inattentive dan hyperactive-impulsive. Anak bisa mengalami kesulitan berkonsentrasi sekaligus menunjukkan perilaku yang sangat aktif.
Tipe combined merupakan yang paling umum ditemui karena gejalanya muncul dari dua sisi sekaligus. Pendekatan belajar maupun pendampingannya biasanya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak, sebab tingkat keparahan setiap individu tidak selalu sama.
Ringkasan Perbedaan Ketiga Tipe
| Aspek | Inattentive | Hyperactive-Impulsive | Combined |
|---|---|---|---|
| Tantangan utama | Mempertahankan perhatian | Mengendalikan gerak dan dorongan | Keduanya sekaligus |
| Perilaku di kelas | Tenang, tetapi sering melewatkan instruksi | Sulit duduk diam, memotong pembicaraan | Aktif sekaligus mudah teralihkan |
| Seberapa mudah dikenali | Sering terlambat disadari | Paling cepat terlihat | Umumnya cukup jelas |
| Salah paham yang sering muncul | Dianggap pelamun atau malas | Dianggap nakal atau tidak patuh | Dianggap sulit diatur |
Perlu ditegaskan, tabel ini hanya membantu orang tua mengenali pola secara umum, bukan alat untuk menentukan tipe ADHD anak sendiri. Penentuannya hanya dapat dilakukan melalui pemeriksaan oleh tenaga profesional.
Pertanyaan yang Sering Muncul seputar Tipe ADHD
Saat membahas tipe ADHD, sering muncul pertanyaan seperti apakah ADHD sama dengan hiperaktif, ada berapa jenis ADHD, serta apakah ADHD termasuk cacat mental.
Saat ini, pembagian yang paling umum dikenal terdiri dari tiga tipe, yaitu inattentive, hyperactive-impulsive, dan combined. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), ketiganya dibedakan berdasarkan gejala mana yang paling menonjol dalam enam bulan terakhir. Dalam panduan diagnostik terbaru, ketiganya disebut sebagai presentasi, bukan tipe yang permanen, karena gejala yang menonjol pada seorang anak bisa berubah seiring bertambahnya usia.
Sementara itu, ADHD bukan termasuk cacat mental, melainkan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi perhatian, kontrol impuls, dan tingkat aktivitas seseorang. Kondisi ini tidak berkaitan dengan kecerdasan anak. Banyak anak dengan ADHD memiliki kemampuan intelektual yang setara atau bahkan di atas rata-rata, hanya saja mereka kesulitan menunjukkannya karena tantangan dalam mempertahankan perhatian.
Karena gejala ADHD dapat menyerupai kondisi lain, pemeriksaan menyeluruh menjadi penting. Perbandingan dengan kondisi yang sering tertukar dapat Anda baca pada artikel tentang perbedaan autisme, ADHD, dan disleksia.
Apakah ADHD Bisa Sembuh?
Tidak sedikit orang yang bertanya apakah ADHD bisa sembuh. Pertanyaan tersebut wajar muncul ketika seseorang baru mengetahui adanya diagnosis ADHD, dan jawabannya memang tidak sesederhana ya atau tidak.
ADHD lebih berfokus pada pengelolaan gejala melalui pendampingan, terapi, strategi belajar, serta dukungan lingkungan, sehingga anak dapat berkembang secara optimal. Sebagian gejala, khususnya hiperaktivitas, memang cenderung berkurang seiring bertambahnya usia. Namun, tantangan pada perhatian dan pengaturan diri bisa bertahan hingga remaja atau dewasa dalam bentuk yang berbeda.
Kabar baiknya, dengan strategi yang tepat, banyak anak dengan ADHD mampu menjalani kehidupan sekolah dan sosial dengan baik. Beberapa pendekatan yang umum digunakan meliputi terapi perilaku, terapi okupasi untuk melatih regulasi diri, penyesuaian cara belajar, serta aktivitas fisik terarah seperti yang dibahas dalam artikel tentang cara asyik melatih gerak dan fokus anak ADHD.
Mengapa Mengenali Tipe Itu Penting
Mengetahui tipe ADHD anak membantu menentukan bentuk dukungan yang paling relevan. Anak dengan tipe inattentive umumnya terbantu oleh instruksi yang dipecah menjadi bagian kecil, pengingat visual, serta lingkungan belajar yang minim distraksi.
Sementara anak dengan tipe hyperactive-impulsive biasanya membutuhkan jeda gerak yang terjadwal, aturan yang konsisten, serta kesempatan menyalurkan energi secara terarah. Pada tipe combined, keduanya perlu dikombinasikan sesuai kondisi anak.
Untuk pendampingan yang lebih terstruktur, terapi okupasi kerap direkomendasikan karena membantu anak melatih fokus sekaligus mengelola dorongan impulsif, seperti diulas pada artikel tentang terapi okupasi untuk anak ADHD yang efektif.
Jangan Terburu-buru Memberi Label
Dengan memahami perbedaan setiap tipe ADHD, kita menjadi tidak terburu-buru memberi label pada anak. Anak yang sering melamun belum tentu mengalami ADHD, begitu pula anak yang sangat aktif belum tentu hiperaktif dalam pengertian klinis. Banyak faktor lain yang bisa memengaruhi, mulai dari pola tidur, kondisi lingkungan belajar, hingga tahap perkembangan yang memang sedang berlangsung.
Karena itu, langkah paling tepat ketika muncul kekhawatiran adalah melakukan pemeriksaan bersama profesional. Panduan mengenai waktu yang tepat untuk berkonsultasi dapat Anda baca pada artikel tentang kapan perlu ke psikolog anak untuk ADHD.
Jika Anda ingin memahami kondisi anak lebih jelas melalui asesmen, atau membutuhkan pendampingan terapi yang sesuai dengan kebutuhannya, tim di Tamtam Therapy Centre siap membantu.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah ADHD dan hiperaktif itu sama?
Tidak sepenuhnya sama. Hiperaktif adalah salah satu gejala yang muncul pada ADHD, bukan keseluruhan kondisinya. Anak dengan ADHD tipe inattentive justru tidak menunjukkan hiperaktivitas sama sekali, meski tetap mengalami tantangan pada perhatian dan pengaturan diri. Menyamakan keduanya berisiko membuat anak dengan tipe inattentive terlambat dikenali, karena perilakunya tidak mencolok sehingga sering dianggap tidak bermasalah.
Apakah tipe ADHD anak bisa berubah seiring waktu?
Bisa. Inilah alasan panduan diagnostik terbaru menggunakan istilah presentasi, bukan tipe yang bersifat menetap. Cukup umum ditemui anak yang pada usia dini menunjukkan hiperaktivitas menonjol, lalu ketika beranjak remaja gejala geraknya berkurang sementara kesulitan fokus justru lebih terasa. Karena itu, evaluasi berkala tetap diperlukan agar bentuk dukungan yang diberikan selalu sesuai dengan kondisi anak saat itu.
Bagaimana proses menentukan tipe ADHD pada anak?
Penentuannya tidak dilakukan hanya dari satu sesi pengamatan. Profesional biasanya mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, seperti wawancara dengan orang tua, laporan dari guru, observasi langsung, serta kuesioner terstandar. Gejala juga perlu terlihat konsisten di lebih dari satu situasi, misalnya di rumah dan di sekolah, serta sudah berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Proses menyeluruh seperti ini penting agar kondisi lain yang gejalanya mirip tidak salah dikenali sebagai ADHD.
Artikel ini ditinjau oleh Tim Klinis Tamtam Therapy Centre pada 11 Agustus 2026. Informasi di dalamnya bersifat edukatif dan bukan pengganti pemeriksaan oleh tenaga profesional.


