
Garut – TK-SD Yos Sudarso Garut menggandeng The TamTam Therapy Centre guna memperkuat implementasi sekolah inklusi lewat pemberian program pelatihan bagi tenaga pendidik. Kegiatan pelatihan ini (Inhouse Training) diikuti oleh 25 tenaga pendidik dari jenjang PG, TK hingga SD.
Diaqnita Mawarti, Kepala Sekolah TK–SD Yos Sudarso Garut menegaskan bahwa guru merupakan garda terdepan dalam proses deteksi dini sekaligus penguatan ekosistem inklusif di sekolah. Ia menjelaskan bahwa pendidikan inklusi bukan hanya konsep, melainkan praktik nyata yang harus dijalankan melalui kompetensi guru dan kesiapan sekolah.
“Kami ingin seluruh pendidik di lingkungan TK–SD Yos Sudarso menjadi pendamping yang peka, sigap, dan profesional dalam mengenali kebutuhan tiap anak. Pendidikan inklusi menuntut kita untuk membuka ruang bagi semua murid agar berkembang sesuai potensi mereka,” ujar Kepala Sekolah TK-SD Yos Sudarso dalam pembukaan kegiatan di Garut pada Sabtu (15/11).
Diaqnita juga menyampaikan bahwa untuk mewujudkan hal ini, sekolah memutuskan untuk mengundang The TamTam Therapy Centre sebagai pusat terapi tumbuh kembang anak di Garut. Selama program pelatihan berjalan, para tenaga pendidik sangat antusias sekaligus melakukan refleksi diri berkaitan dengan upaya deteksi dini yang ternyata ada metode khusus yang bisa dilakukan.
“Keputusan kami yang akhirnya mengundang The TamTam Therapy Centre untuk mengisi materi pelatihan ini didasari oleh nilai yang dimiliki pusat terapi ini sejalan dengan kebutuhan sekolah terhadap wawasan dan kiat deteksi dini yang bisa kami implementasikan untuk anak didik di sekolah. Kami sangat terinspirasi dengan pemilihan materi yang disampaikan oleh narasumber dimana untuk kami yang masih awam terhadap implementasi lingkungan inklusi di sekolah sangat bermanfaat.” Ujarnya di Garut pada Sabtu (15/11).
Rezki Achyana, Founder The TamTam Therapy Centre bertindak langsung sebagai narasumber dan memberikan pemaparan terkait identifikasi dini kebutuhan khusus pada anak serta strategi penerapan sekolah inklusi secara efektif. Pelatihan ini dirancang tidak sekadar sebagai penyampaian teori, tetapi sebagai pembekalan mengenai indikator perkembangan anak, tanda-tanda awal adanya hambatan belajar, serta pendekatan pembelajaran yang sesuai.
Ia juga menjelaskan mengenai pentingnya deteksi dini. Rezki menyebutkan, semakin cepat anak dikenali kebutuhannya, semakin besar peluang pemberian intervensi yang tepat, baik oleh guru, sekolah, maupun profesional lain jika diperlukan.
“Guru adalah pihak yang setiap hari berinteraksi langsung dengan anak. Karena itu, kemampuan mengenali tanda-tanda awal sangat penting. Pendidikan inklusi tidak sekadar menerima anak berkebutuhan khusus, tetapi memastikan mereka mendapat dukungan yang sesuai,” ujar Rezki yang akrab disapa Pak Kiki.
Ia juga menekankan perlunya kolaborasi antara guru kelas, guru pendamping, orang tua, serta tenaga profesional luar agar layanan yang diberikan kepada murid lebih terpadu dan berkelanjutan.
Dalam sesi training, dipaparkan langkah-langkah identifikasi awal seperti observasi perilaku, pemantauan perkembangan bahasa dan motorik, serta komunikasi intensif dengan orang tua. Materi juga dilengkapi dengan contoh kasus dan diskusi praktik baik implementasi sekolah inklusi.
Para peserta Inhouse Training tampak aktif mengikuti seluruh sesi pelatihan, mulai dari ice breaking, pemaparan materi, diskusi kelompok, hingga simulasi deteksi dini sederhana. Guru-guru dari jenjang PG, TK maupun SD saling bertukar pengalaman mengenai tantangan yang mereka hadapi dalam menangani perbedaan karakter maupun perkembangan murid.
Salah satu guru peserta Inhouse Training mengungkapkan bahwa materi yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi nyata di sekolah.

“Selama ini kami sering menemukan murid yang perkembangan belajarnya berbeda, tetapi kadang bingung menentukan langkah yang tepat. Setelah pelatihan ini, saya merasa lebih percaya diri memahami tanda-tanda awal dan bagaimana melakukan pendekatan yang lebih manusiawi,” ujar Suster Carolina.
Selain itu, kegiatan ini juga membuka ruang refleksi bagi para pendidik tentang pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah, dan tidak diskriminatif. Guru diajak untuk melihat keberagaman sebagai kekuatan yang memperkaya proses belajar.
Dengan terselenggaranya Inhouse Training ini, The TamTam Therapy Centre dan TK-SD Yos Sudarso Garut semakin menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan inklusif yang berkualitas dan berorientasi pada kepentingan terbaik bagi setiap murid. Pelatihan ini menjadi langkah penting menuju sekolah yang lebih ramah dan mengakomodasi keberagaman peserta didik. (AST)