
Anak yang banyak bergerak sering kali dianggap hiperaktif. Namun, tahukah Anda bahwa tidak semua anak yang aktif berarti memiliki gangguan hiperaktivitas atau ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)?
Perbedaan antara keduanya mungkin terlihat mirip di permukaan, tetapi sebenarnya memiliki ciri dan dampak yang cukup berbeda dalam perkembangan anak.
Memahami perbedaan ini penting agar orang tua dapat memberikan pendekatan yang tepat, bukan sekadar menilai anak “terlalu aktif”, tetapi membantu mereka berkembang dengan optimal.
- Anak Aktif: Penuh Energi, Tapi Masih Terkendali
Anak aktif adalah anak yang memiliki energi besar, suka bergerak, dan penuh rasa ingin tahu. Mereka mudah bersemangat, suka bermain, dan sering berpindah aktivitas, tetapi masih bisa diarahkan.
Misalnya, ketika diminta duduk tenang atau berhenti bermain sejenak, anak aktif masih mampu mengikuti arahan meski perlu beberapa kali diingatkan.
Menurut Miss Iska Netti, S.Psi, salah satu Terapis Perilaku di The TamTam Therapy Centre Sukabumi, anak aktif pada dasarnya memiliki self-control yang mulai berkembang.
“Anak aktif itu bukan berarti sulit diatur, mereka hanya punya dorongan eksplorasi yang tinggi. Selama anak masih bisa fokus meski sebentar dan mau mendengarkan instruksi, itu termasuk perilaku aktif yang normal,” jelas Miss Iska.
Anak aktif biasanya menunjukkan perilaku energik di waktu dan tempat yang sesuai. Misalnya saat bermain di luar, berlari, atau menari. Tetapi tetap bisa menyesuaikan diri ketika berada di lingkungan belajar atau situasi yang membutuhkan ketenangan.
- Anak Hiperaktif: Sulit Fokus dan Kendalikan Diri
Berbeda dengan anak aktif, anak hiperaktif memiliki tantangan dalam mengatur perhatian dan mengontrol perilaku.
Mereka cenderung tidak bisa diam bahkan di situasi yang tenang, mudah terdistraksi, dan sering bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu.
Anak hiperaktif sulit menyelesaikan satu aktivitas sebelum berpindah ke yang lain, serta sering kali berbicara terus-menerus atau menyela pembicaraan. Kondisi ini bukan sekadar “aktif”, tetapi berkaitan dengan kemampuan otak dalam mengatur impuls dan fokus.
Miss Iska menambahkan bahwa hiperaktivitas bukan hasil dari pola asuh yang salah, tetapi bisa disebabkan oleh faktor neurologis.
“Anak dengan ADHD memerlukan pendekatan yang berbeda. Mereka bukan nakal atau tidak patuh, tapi butuh strategi khusus agar bisa menyalurkan energinya dengan cara yang lebih adaptif,” terang Miss Iska.
- Bagaimana Orang Tua Bisa Membedakan?
Untuk membantu membedakan anak aktif dengan anak hiperaktif, perhatikan tiga hal berikut:
- Kemampuan Fokus: Anak aktif bisa fokus dalam waktu tertentu, sementara anak hiperaktif sulit mempertahankan perhatian bahkan pada kegiatan yang disukainya.
- Respons terhadap Arahan: Anak aktif bisa mengikuti instruksi setelah diingatkan, sedangkan anak hiperaktif sering gagal mengikuti meskipun sudah diarahkan berulang kali.
- Konteks Perilaku: Anak aktif biasanya bisa menyesuaikan perilaku sesuai tempat dan waktu, sementara anak hiperaktif tetap sulit diam di berbagai situasi.
- Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Jika Anda merasa anak menunjukkan tanda-tanda hiperaktivitas, langkah terbaik adalah melakukan observasi dan konsultasi dengan ahli perilaku anak.
Pendekatan yang tepat dapat membantu anak belajar mengatur diri dan mengoptimalkan potensinya tanpa menekan energi alaminya.
Memahami perbedaan antara anak aktif dan hiperaktif bukan tentang memberi label, tetapi tentang mengenali kebutuhan unik setiap anak. Dengan begitu, orang tua dapat membantu anak tumbuh dalam lingkungan yang mendukung dan penuh pengertian.
Mari, konsultasi bersama tim ahli The TamTam Therapy Centre Sukabumi untuk mengetahui pola perilaku anak lebih dalam dan menemukan strategi terbaik dalam mendampingi tumbuh kembangnya.
Sumber:
• Wawancara dengan Miss Iska Netti, S.Psi, Terapis Perilaku di The TamTam Therapy Centre Sukabumi
• American Psychiatric Association (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM-5).
• Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2023). ADHD in Children: Symptoms and Diagnosis

