
Mengenalkan berbagai tekstur pada anak bukan sekadar bagian dari proses makan atau bermain, ini adalah langkah penting dalam mendukung perkembangan sensorinya. Melalui interaksi dengan berbagai rasa, bentuk, dan sentuhan, anak belajar memahami dunia sekitarnya dan membangun fondasi untuk kemampuan motorik, bahasa, hingga regulasi emosi.
Namun, bagi sebagian anak, baik anak tipikal maupun anak dengan kebutuhan khusus, proses mengenal tekstur bisa menjadi tantangan. Ada anak yang sangat menikmati bermain pasir, tapi ada juga yang justru menolak keras menyentuh bubur atau adonan mainan. Kapan perbedaan ini masih tergolong wajar, dan kapan perlu diwaspadai sebagai tanda gangguan sensori?
Sistem sensori anak berkembang sejak ia masih bayi. Melalui pancaindera, sentuhan, penglihatan, penciuman, pendengaran, dan pengecapan, anak belajar mengenal dunia. Dari semua itu, indra peraba (taktil) memegang peran besar, terutama pada tahun-tahun pertama kehidupan.
Secara umum, bayi sudah bisa mulai diperkenalkan pada berbagai tekstur saat berusia sekitar 6 bulan, yaitu ketika memasuki masa MPASI (Makanan Pendamping ASI). Pada tahap ini, pengenalan tekstur dilakukan secara bertahap, dari halus (puree) hingga kasar (finger food). Tujuannya bukan hanya agar anak belajar mengunyah, tetapi juga untuk melatih sistem sensori taktil di mulut dan tangan.
Selain lewat makanan, tekstur juga bisa dikenalkan melalui aktivitas bermain: menyentuh kain dengan bahan berbeda, bermain pasir, bermain air, atau meremas adonan. Aktivitas sederhana seperti ini membantu anak mengembangkan kemampuan adaptasi terhadap rangsangan sensori dan melatih kepekaan tubuhnya terhadap berbagai stimulus.
Tahapan Umum Pengenalan Tekstur pada Anak
- Usia 6–8 bulan: Anak mulai dikenalkan dengan makanan bertekstur halus seperti bubur lembut atau puree. Ia juga mulai bereksperimen menyentuh makanan dengan tangannya.
- Usia 8–10 bulan: Tekstur makanan bisa ditingkatkan menjadi lebih kasar atau sedikit menggumpal. Anak biasanya mulai bisa mengambil potongan kecil makanan dengan jari (pincer grasp).
- Usia 10–12 bulan: Anak mulai makan makanan keluarga dengan pengawasan. Di usia ini, variasi tekstur semakin penting untuk merangsang kemampuan motorik oral dan sensori.
- Usia 1–2 tahun: Anak sebaiknya sudah mampu menerima berbagai tekstur makanan tanpa penolakan berlebihan. Bermain dengan berbagai bahan (tanah, pasir, air, mainan lembut dan keras) juga sangat dianjurkan untuk memperkaya pengalaman sensori.
Gangguan pemrosesan sensori (Sensory Processing Disorder/SPD) terjadi ketika otak anak mengalami kesulitan menerima, memproses, dan merespons rangsangan dari lingkungan. Anak dengan SPD bisa menjadi terlalu sensitif (hipersensitif) atau kurang sensitif (hiposensitif) terhadap rangsangan tertentu. Beberapa tanda yang bisa diperhatikan orang tua antara lain:
- Saat Makan
a. Menolak makanan dengan tekstur tertentu (misalnya hanya mau bubur halus dan menolak makanan padat).
b. Muntah atau tersedak setiap kali mencoba makanan baru.
c. Enggan menyentuh makanan dengan tangan. - Saat Bermain
a. Menolak aktivitas yang melibatkan sentuhan langsung seperti bermain pasir, cat jari, atau tanah.
b. Terlihat cemas atau menangis ketika tangan atau tubuhnya kotor.
c. Sebaliknya, ada juga anak yang justru terlalu suka sensasi tertentu — misalnya terus-menerus menyentuh benda kasar, menabrak benda, atau berputar tanpa merasa pusing. - Dalam Aktivitas Sehari-Hari
a. Menolak dipakaikan pakaian tertentu karena merasa “gatal” atau “tidak nyaman”.
b. Reaksi berlebihan terhadap suara, cahaya, atau bau yang bagi orang lain biasa saja.
c. Tampak canggung atau lambat dalam aktivitas motorik halus (memegang sendok, menggambar, menulis).
Jika tanda-tanda ini muncul secara konsisten dan mengganggu aktivitas harian anak, penting untuk melakukan evaluasi lebih lanjut dengan terapis okupasi (occupational therapist) atau spesialis tumbuh kembang anak.
Pengenalan tekstur tidak selalu membutuhkan alat atau mainan khusus. Orang tua bisa menstimulasi sensori anak dengan aktivitas sederhana yang menyenangkan, misalnya:
- Mengajak anak bermain tepung, beras, atau pasir di wadah tertutup.
- Bermain air hangat dan dingin, sambil mengenalkan konsep suhu.
- Mengajak anak membantu di dapur. Meremas adonan, mencuci buah, atau mengupas telur rebus.
- Menyediakan variasi tekstur makanan sejak dini dan tidak memaksakan anak saat ia belum siap.
- Memberi contoh positif, misalnya orang tua ikut memegang makanan atau bermain bahan yang sama.
Kunci utamanya adalah memberikan pengalaman positif. Jangan memaksa anak yang takut atau enggan, tetapi berikan kesempatan berulang secara bertahap dan menyenangkan. Pendekatan lembut dan penuh empati membantu anak membangun kepercayaan diri terhadap pengalaman sensori baru.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Profesional?
Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Namun, jika anak menunjukkan penolakan ekstrim terhadap tekstur tertentu, tampak sangat terganggu oleh sensasi yang bagi orang lain biasa saja, atau sulit menyesuaikan diri dalam aktivitas sehari-hari, ini bisa menjadi sinyal awal adanya gangguan pemrosesan sensori. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional agar mendapatkan penilaian yang tepat dan rencana intervensi yang sesuai.
Jika Anda merasa ada yang berbeda dalam cara anak merespons atau menerima berbagai tekstur, baik saat makan maupun saat bermain, jangan menunggu terlalu lama. Evaluasi dini bisa membantu anak beradaptasi lebih baik dan mencegah kesulitan yang lebih besar di kemudian hari.
Segera konsultasikan ke The TamTam Therapy Centre Garut, tim profesional kami siap membantu Anda memahami kebutuhan sensori anak, memberikan evaluasi menyeluruh, serta merancang program terapi okupasi dan sensori integrasi yang sesuai dengan karakter unik setiap anak. (AST)

