Kontak mata bukan hanya melihat ke mata orang lain. Pada anak, kontak mata adalah salah satu sarana penting untuk komunikasi sosial non-verbal, membangun “joint attention” (perhatian bersama), dan menghubungkan diri dengan orang di sekitarnya. Dalam perkembangan anak umumnya, bayi sejak usia beberapa bulan mulai menoleh ke wajah orang, mengikuti pandangan mata, dan merespon tatapan dari orang dewasa di sekitarnya.
Ketika kontak mata ini kurang atau berbeda pola-nya, hal ini bisa menjadi salah satu petunjuk bahwa ada tantangan dalam perkembangan sosial-komunikasi anak. Misalnya dalam gangguan seperti Autism Spectrum Disorder (ASD), banyak penelitian menunjukkan adanya pola kontak mata yang berbeda dibandingkan anak dengan perkembangan tipikal.
Berikut adalah beberapa indikasi pola kontak mata yang berbeda atau menonjol pada anak, yang dapat dipertimbangkan sebagai bagian pemantauan:
- Kontak mata yang sangat minim atau hampir tidak ada
Anak jarang menatap mata orang ketika diajak berbicara, mendapatkan perhatian, atau diminta sesuatu. Menurut artikel “12 Signs of Autism”, kurangnya kontak mata disebut sebagai “one of the hallmarks” ASD. Sebagai contoh, riset menyebut bahwa anak-anak usia 2 tahun dengan ASD menunjukkan preferensi melihat ke mulut atau objek, bukan ke mata orang. - Kontak mata ada, tapi tidak digunakan secara fungsional
Anak mungkin sesekali menatap, tetapi tidak untuk menunjuk keinginan, menunjukkan sesuatu ke orang tua, atau menghubungkan pandangan antara objek dan orang lain (joint attention). Hal ini penting karena perkembangan sosial melibatkan anak yang tidak hanya melihat, tapi juga terhubung. - Kontak mata tampak ada, tetapi maknanya berbeda
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan ASD mungkin tidak aktif menghindari melihat mata orang lain, tetapi mereka tidak memahami pentingnya kontak mata sebagai sinyal sosial. Misalnya, riset “Eye Contact Modulates Cognitive Processing Differently in Children With Autism” menunjukkan bahwa pada anak usia 6 tahun dengan ASD, tatapan langsung (direct gaze) tidak memberikan keuntungan dalam tugas memori seperti pada anak dengan perkembangan tipikal. - Kontak mata yang tidak konsisten atau hanya terbatas pada orang yang sangat akrab
Anak mungkin bisa membuat kontak mata dengan orang tua atau saudara dekat, tetapi sangat sedikit atau tidak sama sekali apabila bersama orang lain atau di lingkungan baru. Hal ini bisa menandakan bahwa kemampuan kontak mata bergantung pada tingkat kenyamanan atau konteks sosialnya.
Untuk mengetahui apakah kontak mata anak Anda memiliki pola berbeda yang perlu perhatian lebih lanjut, berikut beberapa langkah praktis:
- Amati dalam situasi santai dan alami: saat Anda berbicara dengannya, saat bermain bersama, saat Anda mengajaknya menunjuk ke mainan atau menunjukkan sesuatu.
- Catat frekuensi dan durasi tatapan: Apakah anak sesekali menoleh ke mata Anda? Atau hampir tidak pernah? Berapa lama pandangan tertahan?
- Perhatikan apakah anak menggunakan tatapan mata untuk “berbagi perhatian”: misalnya ia menunjuk sebuah objek, lalu melihat ke orang dewasa untuk melihat apakah orang itu tertarik/menangkap maksudnya (joint attention).
- Bandingkan dengan perkembangan tipikal anak seusianya: Anak usia 12–18 bulan biasanya sudah mulai berganti-ganti pandangan antara orang dan objek saat meminta sesuatu atau menampilkan sesuatu. Jika anak jauh di belakang dalam hal ini, bisa menjadi tanda.
- Perhatikan konteks dan keseluruhan perkembangan: Kontak mata yang kurang tidak secara otomatis berarti anak berkebutuhan khusus. Bisa jadi ada faktor lain, misalnya gangguan penglihatan, kecemasan sosial, lingkungan yang kurang rangsang, atau karakter kepribadian yang pemalu. Penting untuk melihat keseluruhan gambaran perkembangan anak (bahasa, interaksi, motorik, perilaku) bukan hanya satu ciri.
Kontak mata yang berbeda pola bisa saja merupakan salah satu indikator adanya kebutuhan khusus, terutama dalam konteks perkembangan komunikasi dan interaksi sosial. Namun, penting diingat bahwa:
- Kontak mata yang “baik” tidak menjamin bahwa anak tidak berkebutuhan khusus. Beberapa anak dengan ASD atau kondisi lain tetap membuat kontak mata yang tampak baik.
- Kontak mata yang “buruk” tidak otomatis berarti anak memiliki ASD atau kondisi lain.
- Evaluasi lengkap oleh profesional perkembangan anak sangat penting untuk menentukan apakah ada kebutuhan khusus dan kemudian program intervensi yang tepat.
Apa yang bisa dilakukan jika Anda mencurigai ada perbedaan?
Jika Anda mengamati bahwa anak Anda memiliki pola kontak mata yang berbeda dan bersamaan dengan ciri-ciri lain seperti: minim menunjuk atau berbagi perhatian, keterlambatan bicara, tidak merespon saat dipanggil namanya, repetisi gerakan atau perilaku terbatas, maka ini adalah sinyal bahwa Anda bisa mempertimbangkan langkah berikut:
- Berkonsultasi dengan dokter anak atau spesialis perkembangan anak untuk screening lebih lanjut.
- Minta evaluasi perkembangan (termasuk interaksi sosial, bahasa, perilaku) oleh psikolog anak, terapis wicara atau terapis perkembangan.
- Jika memang ditemukan kebutuhan khusus, semakin cepat intervensi dimulai, semakin besar potensi anak mendapat dukungan yang tepat dan memaksimalkan perkembangan. Penelitian menunjukkan bahwa intervensi awal untuk anak dengan ASD dapat memberi manfaat signifikan.
Kesimpulan
Kontak mata adalah salah satu jendela penting untuk melihat bagaimana anak berinteraksi secara sosial-komunikatif. Meski bukan satu-satunya indikator, pola kontak mata yang berbeda bisa menjadi sinyal bagi orang tua untuk lebih waspada terutama bila muncul bersamaan dengan ciri-ciri perkembangan lainnya. Pengamatan seksama, pemahaman konteks, dan diskusi dengan profesional adalah kunci.
Jika Anda memiliki kekhawatiran tentang perkembangan kontak mata anak Anda, lebih baik lakukan pengecekan lebih awal. Jika Anda merasa anak Anda mungkin menunjukkan pola kontak mata yang berbeda atau ada keraguan terkait perkembangan sosial-komunikasinya, jangan ragu untuk hubungi tim profesional terapi perkembangan anak. The TamTam Therapy Centre Garut siap membantu Anda memahami lebih lanjut, melakukan evaluasi, dan menentukan langkah intervensi yang tepat. (AST)
